Apakah CTCP Scam/Penipuan? Airdrop 100 CTC Plus Harga Turun Terus

Belakangan ini, dunia kripto kembali diramaikan dengan kemunculan proyek baru bernama CTC Plus (CTCP). Token ini mendadak populer setelah menawarkan airdrop gratis yang menjanjikan 100 CTC Plus bagi siapa saja yang mendaftar. Banyak pengguna yang langsung tertarik, apalagi dengan iming-iming bahwa modal awalnya hanya sekitar Rp3.000 untuk biaya gas di jaringan BNB Chain.

Namun, semakin hari, nama CTCP justru memunculkan banyak tanda tanya. Di media sosial, komunitas crypto terbagi dua: ada yang yakin proyek ini punya potensi besar, dan ada pula yang menuduhnya sebagai scam atau penipuan terselubung.

Pemicunya sederhana — airdrop yang seharusnya gratis, justru mewajibkan KYC berbayar, sesuatu yang jarang atau bahkan tidak pernah terjadi di proyek crypto besar dan terpercaya.

KYC Berbayar, Sinyal Aneh dari Sebuah Airdrop

Biasanya, proses KYC (Know Your Customer) digunakan oleh platform untuk memverifikasi identitas pengguna, dan dilakukan tanpa biaya. Namun berbeda dengan CTCP, pengguna diwajibkan menyiapkan biaya gas sebesar 0,0018 BNB, atau sekitar Rp3.000 saat itu.

Bagi sebagian orang, nominal ini memang kecil, tapi jika dikalikan dengan jumlah peserta yang mencapai ribuan akun, dana yang terkumpul bukan jumlah yang sedikit. Di sinilah muncul dugaan bahwa developer CTCP sengaja menggunakan sistem KYC berbayar untuk menghimpun dana dari para pendaftar, bukan untuk tujuan validasi data pengguna semata.

Beberapa anggota komunitas Telegram CTCP bahkan melaporkan bahwa setelah membayar gas fee, saldo 100 CTC Plus yang dijanjikan tidak bisa dipindahkan ataupun ditarik, alias hanya angka di dalam aplikasi. Hal ini semakin memperkuat kecurigaan bahwa airdrop ini hanyalah umpan untuk menarik minat pengguna baru.

Baca Juga:  4 Cara Mendapatkan AirDrop X World Gratis Langsung Jadi Koin

Situs Web dan Transparansi yang Diragukan

Hal lain yang memunculkan kecurigaan adalah inkonsistensi pada situs resmi CTCP. Ketika diakses melalui tautan yang dibagikan di grup Telegram, situs tersebut awalnya menampilkan nama domain tertentu, namun saat diklik justru dialihkan ke domain berbeda.

Fenomena ini memunculkan dugaan bahwa proyek ini mungkin hanya meminjam nama domain dari platform lain untuk terlihat lebih kredibel. Bahkan hingga kini, tidak ada whitepaper resmi, audit keamanan, atau informasi publik yang menjelaskan siapa pengembang di balik CTCP.

Bagi komunitas crypto yang sudah lama berkecimpung di dunia token dan blockchain, hal ini jelas menjadi tanda bahaya. Sebuah proyek yang tidak transparan dan tidak bisa diverifikasi secara terbuka biasanya berpotensi besar menjadi proyek bodong atau scam.

Analisis Harga CTCP: Naik Drastis, Lalu Terjun Bebas

CTCP memang sempat terdaftar di CoinGenco dan PancakeSwap, namun tidak memiliki verifikasi resmi di CoinMarketCap. Dalam waktu singkat, token ini sempat “to the moon” — naik tinggi karena antusiasme awal para pemburu airdrop. Tapi tidak lama setelah itu, harganya anjlok tajam.

Fenomena ini umum terjadi di proyek airdrop tanpa fundamental kuat. Ketika banyak pengguna langsung menjual token gratisannya di pasar, supply meningkat drastis, sementara demand tidak cukup besar, sehingga harga terjun bebas.

Apalagi jika mayoritas pemegang token hanya berasal dari peserta airdrop, tanpa adanya investor institusional atau dukungan komunitas nyata. Kondisi semacam ini membuat harga CTCP sulit stabil dan cenderung terus menurun.

Mengapa Banyak yang Menyebut CTCP Sebagai Scam?

Ada beberapa alasan kuat kenapa sebagian besar komunitas mulai menilai proyek ini mencurigakan:

  1. Tidak ada dokumen whitepaper resmi.
    Proyek kripto yang serius selalu merilis whitepaper sebagai panduan dan bukti transparansi. CTCP tidak memilikinya.
  2. KYC berbayar dan tidak jelas tujuannya.
    Umumnya, KYC gratis dan hanya butuh dokumen identitas, bukan biaya tambahan.
  3. Tidak diverifikasi di CoinMarketCap.
    CTCP muncul dengan peringatan dari CoinMarketCap agar pengguna berhati-hati karena belum melalui proses verifikasi.
  4. Tidak ada audit keamanan.
    Audit adalah langkah penting untuk memastikan keamanan smart contract. CTCP tidak memiliki bukti audit apapun.
  5. Saldo tidak bisa ditarik atau dipindahkan.
    Banyak pengguna melaporkan bahwa token hasil airdrop hanya bisa dilihat di aplikasi, tidak bisa dijual.
Baca Juga:  Review Cara Pinjam Uang di Dana Dompet Langsung Cair

Dengan berbagai temuan ini, banyak analis menilai bahwa CTCP lebih mirip proyek pengumpulan dana terselubung ketimbang proyek kripto yang serius membangun ekosistem jangka panjang.

Baca juga: Berhasil Cair 9 Juta! Modal WhatsApp X WaIDN, Ini Caranya!

Kesimpulan

Berdasarkan berbagai indikasi yang muncul, CTC Plus (CTCP) memiliki banyak kejanggalan — mulai dari KYC berbayar, ketidakjelasan developer, hingga token yang tidak bisa ditarik. Walaupun ada klaim bahwa CTCP telah listing di beberapa platform, hal tersebut tidak menjamin keamanannya.

Bagi siapa pun yang tertarik dengan dunia crypto, penting untuk diingat bahwa airdrop bukan berarti tanpa risiko. Sebelum ikut, pastikan proyek tersebut memiliki dokumen resmi, tim yang jelas, serta transparansi penuh terhadap pengguna.

CTCP mungkin masih berjalan, tetapi banyak sinyal merah yang menunjukkan bahwa proyek ini layak diwaspadai. Alih-alih mengejar keuntungan kecil dari airdrop berbayar, sebaiknya fokus pada proyek yang jelas, aman, dan terverifikasi.

Karena dalam dunia crypto — yang tampak gratis belum tentu benar-benar menguntungkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button